Archive for the 'Taufiq Ismail' Category

Aug 10 2008

Taufiq Ismail: Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1966. Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus Berjalan terus Karena berhenti atau mundur Berarti hanyut Apakah akan kita jual keyakinan kita Dalam pengabdian tanpa harga Akan maukah kita duduk satu meja Dengan para pembunuh tahun yang lalu Dalam setiap kalimat yang berakhiran: “Duli Tuanku”? Tidak ada lagi pilihan [...]

No responses yet

Aug 04 2008

Kembalikan Indonesia Padaku (kepada Kang Ilen)

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1971 – Paris. ======================================================== Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga. Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam yang menyala bergantian. Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa. Hari [...]

Comments Off

Jul 25 2008

Taufiq Ismail: Doa

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1966. Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani Ampunilah kami Ampunilah Amin Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan asmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu Ampunilah kami [...]

One response so far

Jun 17 2008

Taufiq Ismail: Ketika Burung Merpati Sore Melayang

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1998. Langit akhlak telah roboh di atas negeri Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri Karena hukum tak tegak, semua jadi begini Negeriku sesak adegan tipu-menipu Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku [...]

One response so far

May 15 2008

Taufiq Ismail: Syair Empat Kartu di Tangan

Ini bicara blak-blakan saja, bang Buka kartu tampak tampang Sehingga semua jelas membayang Monoloyalitas kami sebenarnya pada uang Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara Koyak tampak terkubak semua Sehingga buat apa basi dan basa Sila kami Keuangan Yang Maha Esa Jangan sungkan buat apa yah-payah Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah Tak usahlah sah-susah Ideologiku begitu [...]

One response so far

Apr 28 2008

Taufiq Ismail: Kemis Pagi

Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran Dan menaiki kereta-kereta kencana Dan menggunakan materai kerajaan Dengan suara lantang memperatas-namakan Kawula dukana yang berpuluh-juta Hari ini kita serahkan mereka Untuk digantung ditiang Keadilan Penyebar bisa fitna dan dusta durjana Bertahun-tahun lamanya. Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa Membeli benda-benda tanpa-harga dimanca-negara [...]

No responses yet

Mar 23 2008

Dari Ibu Seorang Demonstran

Ibu telah merelakan kalian Untuk berangkat demonstrasi Karena kalian pergi menyempurnakan Kemerdekaan negeri ini Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada Atau gas airmata Tapi langsung peluru tajam Tapi itulah yang dihadapi Ayah kalian almarhum Delapan belas tahun yang lalu Pergilah pergi, setiap pagi Setelah dahi dan pipi kalian Ibu ciumi Mungkin ini pelukan penghabisan [...]

No responses yet

Mar 15 2008

Taufiq Ismail: Membaca Tanda-tanda

Published by En Tay under Poem (Puisi),Taufiq Ismail

Kita saksikan Gunung memompa abu, Abu membawa batu, Batu membawa lindu, Lindu membawa longsor, Longsor membawa air, Air membawa banjir, Banjir membawa air, Air Mata dikutip dari bengkel puisi

No responses yet

Mar 13 2008

Bagaimana Kalau

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1971. Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,tapi buah alpukat. Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat. Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus kita beri mandat Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia Monaco. Bagaimana kalau malam nanti jam [...]

No responses yet

Feb 26 2008

Taufiq Ismail: Presiden Boleh Pergi, Presiden Boleh Datang

Salah satu puisi dari Taufiq Ismail. Dibacakan di beberapa pentas baca puisi di Jakarta. Sebuah orde tenggelam sebuah orde timbul tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat Mereka tidak mengalami guncangan yang berat Yang selalu terapung di atas gelombang Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah Di negeri [...]

No responses yet

Next »