<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pujangga.net - programmer melankolis &#187; Taufiq Ismail</title>
	<atom:link href="http://pujangga.net/myblog/category/poem-puisi/taufiq-ismail/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pujangga.net/myblog</link>
	<description>Spirit of BLOG is the spirit to share</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 16:15:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/08/10/taufiq-ismail-kita-adalah-pemilik-sah-republik-ini/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/08/10/taufiq-ismail-kita-adalah-pemilik-sah-republik-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 15:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[tirani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/08/10/taufiq-ismail-kita-adalah-pemilik-sah-republik-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1966. Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus Berjalan terus Karena berhenti atau mundur Berarti hanyut Apakah akan kita jual keyakinan kita Dalam pengabdian tanpa harga Akan maukah kita duduk satu meja Dengan para pembunuh tahun yang lalu Dalam setiap kalimat yang berakhiran: &#8220;Duli Tuanku&#8221;? Tidak ada lagi pilihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufik_Ismail">Taufiq Ismail</a>, tertanggal tahun 1966.</p>
<blockquote><p>Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus<br />
Berjalan terus<br />
Karena berhenti atau mundur<br />
Berarti hanyut</p>
<p>Apakah akan kita jual keyakinan kita<br />
Dalam pengabdian tanpa harga<br />
Akan maukah kita duduk satu meja<br />
Dengan para pembunuh tahun yang lalu<br />
Dalam setiap kalimat yang berakhiran:<br />
&#8220;Duli Tuanku&#8221;?</p>
<p>Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus<br />
Berjalan terus<br />
Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan<br />
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh<br />
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara<br />
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama<br />
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka<br />
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan<br />
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara</p>
<p>Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus<br />
Berjalan terus</p></blockquote>
<div class="author">dari: Tirani</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/08/10/taufiq-ismail-kita-adalah-pemilik-sah-republik-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalikan Indonesia Padaku (kepada Kang Ilen)</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/08/04/kembalikan-indonesia-padaku-kepada-kang-ilen/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/08/04/kembalikan-indonesia-padaku-kepada-kang-ilen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 03:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/08/01/kembalikan-indonesia-padaku-kepada-kang-ilen/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1971 &#8211; Paris. ======================================================== Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga. Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam yang menyala bergantian. Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa. Hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail">Taufiq Ismail</a>, tertanggal tahun 1971 &#8211; Paris.<br />
========================================================</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam yang menyala bergantian.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola  yang bentuknya seperti telur angsa.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya, </p>
<blockquote><p>Kembalikan<br />
Indonesia<br />
padaku
</p></blockquote>
<p>Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian, </p>
<p>Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan.</p>
<blockquote><p>Kembalikan<br />
Indonesia<br />
padaku
</p></blockquote>
<p>Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya.</p>
<p>Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian</p>
<blockquote><p>Kembalikan<br />
Indonesia<br />
padaku</p></blockquote>
<div align="right">dikutip dari http://www.geocities.com/soho/museum/2737/p-taufiq.html#kembalikan</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/08/04/kembalikan-indonesia-padaku-kepada-kang-ilen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Doa</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/07/25/taufiq-ismail-doa/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/07/25/taufiq-ismail-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 11:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1966. Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani Ampunilah kami Ampunilah Amin Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan asmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu Ampunilah kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail">Taufiq Ismail</a>, tertanggal tahun 1966.</p>
<blockquote><p>Tuhan kami<br />
Telah nista kami dalam dosa bersama<br />
Bertahun membangun kultus ini<br />
Dalam pikiran yang ganda<br />
Dan menutupi hati nurani </p>
<p>Ampunilah kami<br />
Ampunilah<br />
Amin  </p>
<p>Tuhan kami<br />
Telah terlalu mudah kami<br />
Menggunakan asmaMu<br />
Bertahun di negeri ini<br />
Semoga<br />
Kau rela menerima kembali<br />
Kami dalam barisanMu </p>
<p>Ampunilah kami<br />
Ampunilah<br />
Amin.  </p></blockquote>
<div align="right">dikutip dari http://www.geocities.com/soho/museum/2737/p-taufiq.html#doa</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/07/25/taufiq-ismail-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Ketika Burung Merpati Sore Melayang</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/06/17/taufiq-ismail-ketika-burung-merpati-sore-melayang/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/06/17/taufiq-ismail-ketika-burung-merpati-sore-melayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 12:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/04/01/taufiq-ismail-ketika-burung-merpati-sore-melayang/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1998. Langit akhlak telah roboh di atas negeri Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri Karena hukum tak tegak, semua jadi begini Negeriku sesak adegan tipu-menipu Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail">Taufiq Ismail</a>, tertanggal tahun 1998.</p>
<blockquote><p>Langit akhlak telah roboh di atas negeri<br />
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri<br />
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini<br />
Negeriku sesak adegan tipu-menipu </p>
<p>Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku<br />
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku<br />
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku<br />
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku<br />
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku </p>
<p>Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan<br />
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan<br />
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan<br />
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan<br />
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan </p>
<p>Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan<br />
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan<br />
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan<br />
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian<br />
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan </p>
<p>Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api<br />
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti<br />
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri<br />
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini<br />
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api<br />
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi<br />
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri </p>
<p>Kukenangkan tahun &#8217;47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga<br />
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi<br />
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri<br />
Seluruh korban empat tahun revolusi<br />
Dengan Mei &#8217;98 jauh beda, jauh kalah ngeri<br />
Aku termangu mengenang ini<br />
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri </p>
<p>Ada burung merpati sore melayang<br />
Adakah desingnya kau dengar sekarang<br />
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan<br />
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan<br />
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah<br />
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku<br />
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu? </p>
<p>Ada burung merpati sore melayang<br />
Adakah desingnya kau dengar sekarang</p></blockquote>
<p align="right">dikutip dari <em>http://www.geocities.com/soho/museum/2737/p-taufiq.html#burung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/06/17/taufiq-ismail-ketika-burung-merpati-sore-melayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Syair Empat Kartu di Tangan</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/05/15/taufiq-ismail-syair-empat-kartu-di-tangan/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/05/15/taufiq-ismail-syair-empat-kartu-di-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 16:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Ini bicara blak-blakan saja, bang Buka kartu tampak tampang Sehingga semua jelas membayang Monoloyalitas kami sebenarnya pada uang Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara Koyak tampak terkubak semua Sehingga buat apa basi dan basa Sila kami Keuangan Yang Maha Esa Jangan sungkan buat apa yah-payah Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah Tak usahlah sah-susah Ideologiku begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bicara blak-blakan saja, bang<br />
Buka kartu tampak tampang<br />
Sehingga semua jelas membayang </p>
<blockquote><p>Monoloyalitas kami sebenarnya pada uang</p></blockquote>
<p>Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara<br />
Koyak tampak terkubak semua<br />
Sehingga buat apa basi dan basa </p>
<blockquote><p>Sila kami<br />
Keuangan Yang Maha Esa
</p></blockquote>
<p>Jangan sungkan buat apa yah-payah<br />
Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah<br />
Tak usahlah sah-susah </p>
<blockquote><p>Ideologiku begitu jelas<br />
ideologi rupiah
</p></blockquote>
<p>Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan<br />
Setiap jeroan berjajar kelihatan<br />
Sehingga jelas sebagai keseluruhan </p>
<blockquote><p>Asas tunggalku<br />
memang keserakahan. </p></blockquote>
<p align="right">Salah satu puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail">Taufiq Ismail</a>, tertanggal tahun 1998.<br />
dikutip dari <em>http://www.geocities.com/soho/museum/2737/p-taufiq.html#syair</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/05/15/taufiq-ismail-syair-empat-kartu-di-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Kemis Pagi</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/04/28/taufiq-ismail-kemis-pagi/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/04/28/taufiq-ismail-kemis-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 16:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran Dan menaiki kereta-kereta kencana Dan menggunakan materai kerajaan Dengan suara lantang memperatas-namakan Kawula dukana yang berpuluh-juta Hari ini kita serahkan mereka Untuk digantung ditiang Keadilan Penyebar bisa fitna dan dusta durjana Bertahun-tahun lamanya. Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa Membeli benda-benda tanpa-harga dimanca-negara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan<br />
Yang selama ini mengenakan seragam kebesaran<br />
Dan menaiki kereta-kereta kencana<br />
Dan menggunakan materai kerajaan<br />
Dengan suara lantang memperatas-namakan<br />
Kawula dukana yang berpuluh-juta</p>
<p>Hari ini kita serahkan mereka<br />
Untuk digantung ditiang Keadilan<br />
Penyebar bisa fitna dan dusta durjana<br />
Bertahun-tahun lamanya.</p>
<p>Mereka yang merencanakan seratus mahligai raksasa<br />
Membeli benda-benda tanpa-harga dimanca-negara<br />
Dan memperoleh uang emas beratus juta<br />
Bagi diri sendiri, dibank-bank luar negeri<br />
Merekalah penganjur zina secara terbuka<br />
Dan menistakan kehormatan wanita, kaum dari ibu kita</p>
<p>Hari ini kita tangkap tangan-tangan Kebatilan<br />
Kebanyakan anak-anak muda berumur belasan<br />
Yang berangkat dari rumah, pagi tanpa sarapan<br />
Telah kita naiki gedung-gedung itu<br />
Mereka semua pucat, tiada lagi berdaya<br />
Seorang ketika digiring, tersedu<br />
Membuka dirisendiri tanda kebesaran dipundaknya<br />
Dan berjalan perlahan dengan lemahnya</p></blockquote>
<div class="author">dari: Benteng</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/04/28/taufiq-ismail-kemis-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Ibu Seorang Demonstran</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/03/23/dari-ibu-seorang-demonstran/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/03/23/dari-ibu-seorang-demonstran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 00:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/03/23/dari-ibu-seorang-demonstran/</guid>
		<description><![CDATA[Ibu telah merelakan kalian Untuk berangkat demonstrasi Karena kalian pergi menyempurnakan Kemerdekaan negeri ini Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada Atau gas airmata Tapi langsung peluru tajam Tapi itulah yang dihadapi Ayah kalian almarhum Delapan belas tahun yang lalu Pergilah pergi, setiap pagi Setelah dahi dan pipi kalian Ibu ciumi Mungkin ini pelukan penghabisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ibu telah merelakan kalian<br />
Untuk berangkat demonstrasi<br />
Karena kalian pergi menyempurnakan<br />
Kemerdekaan negeri ini</p>
<p>Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada<br />
Atau gas airmata<br />
Tapi langsung peluru tajam<br />
Tapi itulah yang dihadapi<br />
Ayah kalian almarhum<br />
Delapan belas tahun yang lalu</p>
<p>Pergilah pergi, setiap pagi<br />
Setelah dahi dan pipi kalian<br />
Ibu ciumi<br />
Mungkin ini pelukan penghabisan<br />
(Ibu itu menyeka sudut-matanya)</p>
<p>Tetapi ingatlah, sekali lagi<br />
Jika logam itu memang memuat nama kalian<br />
(Ibu itu tersedu sesaat)<br />
Ibu relakan<br />
Tapi jangan disaat terakhir<br />
Kauteriakkan kebencian<br />
Atau dendam kesumat<br />
Pada seseorang<br />
Walaupun betapa zalimnya<br />
Orang itu</p>
<p>Niatkanlah menegakkan kalimah Allah<br />
Diatas bumi kita ini<br />
Dengan menegakkan Keadilan<br />
Dan kebenaran<br />
Tanpa dendam dan kebencian<br />
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan<br />
Serta Rasul kita yang tercinta</p>
<p>Pergilah pergi<br />
Iwa, Ida dan Hadi<br />
Pergilah pergi<br />
Pagi ini</p>
<p>(Mereka telah berpamitan dengan ibu yang tua. Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka, dan berangkatlah mereka bertiga, tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/03/23/dari-ibu-seorang-demonstran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Membaca Tanda-tanda</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/03/15/taufiq-ismail-membaca-tanda-tanda/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/03/15/taufiq-ismail-membaca-tanda-tanda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 11:31:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/03/15/taufiq-ismail-membaca-tanda-tanda/</guid>
		<description><![CDATA[Kita saksikan Gunung memompa abu, Abu membawa batu, Batu membawa lindu, Lindu membawa longsor, Longsor membawa air, Air membawa banjir, Banjir membawa air, Air Mata dikutip dari bengkel puisi]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kita saksikan Gunung memompa abu,<br />
Abu membawa batu,<br />
Batu membawa lindu,<br />
Lindu membawa longsor,<br />
Longsor membawa air,<br />
Air membawa banjir,<br />
Banjir membawa air, Air Mata</p></blockquote>
<div class="author">dikutip dari <a href="http://bengkelpuisi.blogspot.com/2006/11/kutipan-puisi-bulan-juli.html">bengkel puisi</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/03/15/taufiq-ismail-membaca-tanda-tanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/03/13/bagaimana-kalau/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/03/13/bagaimana-kalau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 16:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/03/13/bagaimana-kalau/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu puisi dari Taufiq Ismail, tertanggal tahun 1971. Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,tapi buah alpukat. Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat. Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus kita beri mandat Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia Monaco. Bagaimana kalau malam nanti jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail">Taufiq Ismail</a>, tertanggal tahun 1971.</p>
<blockquote><p>Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,tapi buah alpukat.</p>
<p>Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat.</p>
<p>Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus kita beri mandat</p>
<p>Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia Monaco.</p>
<p>Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, salju turun di Gunung Sahar.</p>
<p>Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop.</p>
<p>Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia dibayar dengan pementasan Rendra.</p>
<p>Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan.</p>
<p>Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga dikamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan margasatwa Afrika. </p>
<p>Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil mempertimbangkan protes itu. </p>
<p>Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita pelihara ternak sebagai pengganti.</p>
<p>Bagaimana kalau sampai waktunya kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.  </p></blockquote>
<div align="right">dikutip dari http://www.geocities.com/soho/museum/2737/p-taufiq.html#bagaimana</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/03/13/bagaimana-kalau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taufiq Ismail: Presiden Boleh Pergi, Presiden Boleh Datang</title>
		<link>http://pujangga.net/myblog/2008/02/26/taufiq-ismail-presiden-boleh-pergi-presiden-boleh-datang/</link>
		<comments>http://pujangga.net/myblog/2008/02/26/taufiq-ismail-presiden-boleh-pergi-presiden-boleh-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 15:28:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>En Tay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Poem (Puisi)]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujangga.net/myblog/2008/02/26/presiden-boleh-pergi-presiden-boleh-datang/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu puisi dari Taufiq Ismail. Dibacakan di beberapa pentas baca puisi di Jakarta. Sebuah orde tenggelam sebuah orde timbul tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat Mereka tidak mengalami guncangan yang berat Yang selalu terapung di atas gelombang Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah Di negeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu puisi dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail">Taufiq Ismail</a>. Dibacakan di beberapa pentas baca puisi di Jakarta.</p>
<blockquote><p>Sebuah orde tenggelam<br />
sebuah orde timbul<br />
tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat<br />
Mereka tidak mengalami guncangan yang berat<br />
Yang selalu terapung di atas gelombang<br />
Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah<br />
Di negeri kami ungkapan ini begitu indah<br />
Kini simaklah sebuah kisah<br />
Seorang pegawai tinggi gajinya satu setengah juta rupiah<br />
Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu-abu,<br />
Honda metalik, dan Mercedes merah<br />
Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana<br />
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam indah<br />
Setiap semester ganjil istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura<br />
Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika  </p>
<p>Anak-anaknya &#8230;.  </p>
<p>Anak-anaknya pegang dua pabrik, tiga apotik dan empat biro jasa<br />
Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko onderdil,<br />
lima biro iklan, dan empat pusat belanja.  </p>
<p>Ketika rupiah anjlok terperosok, kepeleset macet dan hancur jadi bubur,<br />
dia, hah!<br />
dia ketawa terbahak-bahak karena depositonya dolar Amerika semua<br />
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit Barat,<br />
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat<br />
Krisis makin menjadi-jadi<br />
Di mana-mana orang antri<br />
Maka 100 kotak kantong plastik hitam dia bagi-bagi<br />
Isinya masing-masing:<br />
Lima genggam beras, empat cangkir minyak goreng,<br />
dan tiga bungkus mie cepat jadi.  </p>
<p>Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi<br />
dan masuk koran halaman lima pagi sekali<br />
Gelombang mau datang,<br />
Datang lagi gelombang setiap bah air pasang<br />
Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang<br />
Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi<br />
lalu ia berkata sambil berdiri:  </p>
<p>Yaaa&#8230; masing-masing kita kan punya sejeki sendiri-sendiri<br />
Seperti bandul jam bergoyang-goyang kekayaan misterius mau diperiksa<br />
Kekayaan&#8230; tidak jadi diperiksa<br />
Kakayaan&#8230; mau diperiksa<br />
Kekayaan&#8230; tidak jadi diperiksa<br />
Kekayaan&#8230; mau diperiksa<br />
Kekayaan&#8230; tidak jadi diperiksa<br />
Kekayaan&#8230; harus diperiksa<br />
Kekayaan&#8230; tidak jadi diperiksa  </p>
</blockquote>
<div align="right">dikutip dari http://www.geocities.com/soho/museum/2737/p-taufiq.html#presiden</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujangga.net/myblog/2008/02/26/taufiq-ismail-presiden-boleh-pergi-presiden-boleh-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

